Seminar “I love you part-5” Institut Injil Indonesia – Kamis, 28 September 2017

“Cinta kuat seperti maut, kegairahannya gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN”, kata Firman Tuhan dalam Kidung Agung 7:6a. Selanjutnya dijelaskan tentang kekuatan cinta bahwa “air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya…” (Kid. Ag. 7:6b). Cinta itu milik Tuhan, dan dikaruniakan kepada manusia untuk saling mencintai, dan membentuk lembaga pernikahan. Namun seringkali mata manusia kabur untuk membedakan antara cinta dan sekedar keinginan yang kuat untuk memiliki seseorang sebagai pasangan dalam membentuk rumah tangga.

Institut Injil  Indonesia (I-3) memiliki peraturan yang unik sejak dahulu kala, yaitu mahasiswa boleh menjalin hubungan pacaran jika sudah masuk semester lima, dan pertemuan mereka pun difasilitasi di rumah Bp/Ibu unit dua minggu sekali, dari jam 19.00-21.00. Kalaupun memutuskan untuk memulai hubungan pacaran dengan seseorang, adalah setelah sekian waktu didoakan dan dipertimbangkan dari segala sisi, termasuk panggilan ke depan. Agar rumah tangga mereka tidak kandal di tengah jalan.

Dalam persekutuan unit gabungan, Kamis Malam tgl. 28 September 2017, di gedung Bukit Zaitun YPPII Batu, diadakan acara seminar “I love you part-5”, dengan nara sumber kali ini adalah pasangan Pdt. Pondsius Takaliuang, M.Th dengan Ibu Pdt. Susana J. Radja Udju, M.Div. Suasana di gedung Bukit Zaitun di dekorasi dengan simbol-simbol cinta yang melambangkan bahwa walaupun sudah hampir setengah abad, cinta Pak Pondsius dan ibu tetap hangat.

 Dalam seminar Ini, Pak Pondsius dan Ibu mengisahkan perjalanan cinta mereka di Institut Injil Indonesia. Kala itu, Pak Pondsius dan ibu masih mahasiswa sehingga peraturan I-3 yang tidak berubah harus mereka lalui. Perasaan cinta itu digumulkan lewat doa dan meminta konfirmasi Tuhan. Setelah yakin, Pak Ponsius memberanikan diri untuk mengirim surat cinta kepada ibu. Surat cinta tersebut diproses oleh bapak/ibu unit (yang sekaligus merupakan orang tua rohani para mahasiswa ketika di bentuk di lembaga ini) dan disampaikan kepada ibu. Ibu Susana sebagai pendoa syafaat, menggumulkan perasaan Pak Pondsius yang tertuang di surat tersebut dalam doa. Lewat doa ibu yakin bahwa Pak Pondsius adalah pasangannya.

Lewat kesaksian ini, mahasiswa dimotivasi untuk mencari kehendak Tuhan dalam menentukan pasangan hidup, karena Hamba Tuhan merupakan panutan bagi jemaat yang dibina kelak. Seminar ini telah menjadi berkat bagi mahasiswa untuk menanti yang dari Tuhan, sesuai rencana dan tujuan Tuhan yang agung.