Wisuda Institut Injil Indonesia tanggal 4 Maret 2017

Wisuda ("graduation) adalah merupakan 'pesta akademik' yang sangat menggembirakan, baik bagi para wisudawan yang telah bekerja keras selama kurun waktu studi yang tidak singkat dan diwarnai berbagai pergumulan (pergumulan dana, keluarga, kesehatan, akademik, dll); maupun bagi seluruh pendidik dan tenaga kependidikan yang telah mendampingi, melatih, dan memberi banyak pembekalan.

Tepatnya tanggal 4 Maret 2017, jam 09.00 tepat, di gedung Bukit Zaitun YPPII Batu, telah dilangsungkan acara wisuda terhadap 48 winisuda: 37 winisuda dengan gelar S.Th., 10 winisuda dengan gelar S.Pd., dan 1 winisuda dengan gelar M.Th.

Dengan tema wisuda "Kontribusi Pendidikan Tinggi Teologi dalam Peningkatan Intensitas Toleransi di tengah Pluralitas", oleh orator Drs. Andar Gultom, M.Pd, dari Direktorat Jenderal Bimas Kristen Kementrian Agama RI Jakarta, menantang para winisuda mewujudkan peran mereka dengan memberi kontribusi konkrit sebagai produk Pendidikan Tinggi Teologi di tengah pluralitas yang akhir-akhir ini dihembusi oleh spirit intoleransi, khususnya antar etnis dan agama di negeri tercinta NKRI.

Dalam sambutannya, Ketua BPPTS I-3 dan sekaligus sebagai Ketua Umum YPPII Batu, DR. Roland M. Octavianus, Th.M., bahwa kebhinnekaan kita ditegaskan dalam Lambang Negara kita yang bersemboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, yang artinya “Berbeda-beda, tetapi Tetap Satu”. Selama dua tahun terakhir ini, muncul pertentangan antar kelompok, karena menyinggung isu: suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA) meningkat. Tetapi jauh sebelumnya Bpak Pdt. DR. Petrus Octavianus, DD, Ph.D, telah lama merintis jalan pemecahan masalah melalui buku-buku beliau, antara lain berjudul: “Mengapa Umat Kristen Menerima Pancasila sebagai Satu-satunya Azas dalam Hidup Bernegara, Berbangsa, Bermasyarakat”, dengan menegaskan “titik temu” antara ideologi Pancasila dengan teologi Umat Kristen. Keduanya saling mendukung, saling menghormati dan saling menghargai. 

Dr. Gunaryo Sudarmanto, DTh, sebagai Rektor I-3 dalam sambutannya menegaskan bahwa upaya mengatasi problem disintegrasi sangat bergantung kepada Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Kualitas SDM bergantung kepada kualitas pendidikan yang disediakan. Olehnya sudah menjadi kewajiban bagi negara bersama seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi aktif demi terselenggaranya proses pendidikan yang berkualitas, sehingga menghasilkan pribadi unggul sebagai anak bangsa yang menjadi pilar pembangunan manusia seutuhnya.